header
Login Form
Main Menu
Home
Brotherhood Links
Kontak Kami
Search
Profil
Struktur Organisasi
Modifikasi
Download
Tips & Trik
Club Vario
Video
mIRC Dalnet
Syarat Pendaftaran
Foto Galeri
Anda koneksi dari : 38.103.63.58
User Online
No users online
Jumlah Anggota
934 registered
0 today
0 yesterday
0 this week
0 this month
Last: assik offline
YM! H-VRC
Dekeizer
Apiet
Kampoengjava
Omde
HVRC000
Juragan Roti
Steven
Cek E-mail
Pengguna
Sandi
Statistics
Anggota: 935
Berita: 188
Pranala: 37




Powered by IP2Location.com
Negara Pengunjung
Totals Top 20
 76 % Indonesia
 7 % Russian Federation
 6 % United States
 2 % United Kingdom
 < 1.0 % Germany
 < 1.0 % Israel
 < 1.0 % Japan
 < 1.0 % China
 < 1.0 % Unknown
 < 1.0 % Korea, Republic of
 < 1.0 % Brazil
 < 1.0 % Malaysia
 < 1.0 % Hong Kong
 < 1.0 % Turkey
 < 1.0 % Poland
 < 1.0 % India
 < 1.0 % France
 < 1.0 % Netherlands
 < 1.0 % Saudi Arabia
 < 1.0 % Canada
Browser
Totals Top 10
 46 % Internet Explorer 6.0
 13 % Internet Explorer 5.01
 11 % Internet Explorer 7.0
 7 % FireFox 2.0.0.14
 6 % FireFox 3.0.1
 4 % FireFox 2.0.0.12
 4 % FireFox 2.0.0.16
 3 % FireFox 3.0.3
 3 % FireFox 3.0
 3 % FireFox 2.0.0.11
Search ...
Headline News
Newsflash
Tip's Hemat BBM PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Web Admin   
Jumat, 28 Maret 2008

Sumber : http://bima.ipb.ac.id/~anita/tips_hemat_bbm.htm

Tip's Hemat BBM

(Terimakasih buat Wiwied yang sudah mengirimkan tips ini)

Macet boros, ngebut pun boros

Laporan Strategic Urban Road Infrastructure (SURIP) pada 1997 menunjukkan karakteristik transportasi perkotaan Indonesia dicirikan oleh kemacetan yang kian serius. Salah satu penyebabnya, perilaku mengemudi pemakai jalan yang tidak disiplin. Kemacetan ini memboroskan BBM senilai sekitar Rp 10 triliun/tahun. Itu baru tahun 1997, apalagi
sekarang dengan semakin bertambahnya jumlah kendaraan yang ada di jalanan, mungkin kita juga bisa melihat hal itu, berapa kali peningkatan jumlah kendaraan dari tahun ke tahun ?

Dalam kemacetan, sekitar 20% waktu kerja mesin dihabiskan dalam 0 km/jam alias berhenti. Berhenti dengan mesin hidup sama artinya dengan membuang BBM, karena ranmor (kendaraan bermotor) sedang kehilangan fungsinya sebagai alat transportasi.

Ketika kendaraan mulai diakselerasi (digas), mesin harus mengatasi gaya inersia yang timbul akibat percepatan dengan cara membakar BBM ekstra.Baru beberapa meter bergerak, ranmon sudah harus direm (deselerasi) hingga berhenti kembali. Ketika menginjak pedal rem, pedal gas tentunya dilepas.Pada waktu itulah sejumlah BBM yang telanjur meninggalkan tangki BBM tidak akan terbakar dan terbuang percuma.

 

Anggapan bahwa konsumsi BBM pada keadaan macet lebih boros ketimbang saat melaju pada kecepatan tinggi tidaklah benar.

Dalam dunia aerodinamika dikenal istilah hambatan angin (Ra). Makin kencang kendaraan dipacu, Ra yang harus dilawan mesin ranmor juga naik. Akibatnya terjadi konsumsi BBM ekstra. Gangguan Ra ini mulai terasa pada
kecepatan 60 Km/jam ke atas. Pada kecepatan 80 km/jam, diperlukan ekstra 15% BBM untuk melawan Ra. BBM ekstra ini meningkat lagi bila kecepatan mencapai 100 km/jam, yakni sebesar 35%.

Putaran mesin optimum

Lalu, bagaimana cara berkendaraan yang hemat BBM? Sebaiknya kita juga menjaga agar mesin berada pada putaran optimum untuk mencapai kecepatan yang layak.

Penjelasan teknisnya begini. Ambil contoh mobil yang digunakan bermesin 4 tak 4 silinder. Mesin ini memerlukan 4 langkah untuk mencapai 1 siklus mesin, yakni langkah isap (campuran O2 dan BBM masuk silinder), kompresi, ekspansi, dan buang. Dalam satu siklus, BBM dikonsumsi tiap silinder hanya pada langkah isap. Kalau sekali langkah isap membutuhkan 1 tetes BBM, maka mesin 4 silinder mengkonsumsi 4 tetes BBM/siklus.

Pada mesin tadi tiap siklus diselesaikan dalam 2 putaran (720o). Andai mesin bekerja pada putaran 2.000 rpm (revolution per minute), sesungguhnya cuma terjadi 1.000 siklus per menit. Kalau tiap siklus BBM yang dikonsumsi 4 tetes, maka dalam 1 menit mesin menghabiskan 4.000 tetes (1.000 x 4 tetes) BBM. Kalau putaran ditingkatkan menjadi 4.000 rpm., bahan bakar yang dibakar bertambah menjadi 8.000 tetes.  Jadi, semakin tinggi putaran mesin, semakin banyak pula konsumsi BBM-nya.

Jumlah silinder juga berpengaruh pada konsumsi BBM. Pada mesin 4 tak 6 silinder misalnya, konsumsi BBM-nya akan menjadi 6 tetes/siklus. Pada putaran 2.000 rpm., mesin memerlukan bahan bakar 6.000 tetes/menit (1.000 x 6 tetes). Jika putarannya naik menjadi 4.000 rpm., bahan bakar yang dikonsumsi menjadi 12.000 tetes/menit.

Faktor lain yang mempengaruhi konsumsi BBM adalah volume silinder.  Secara umum, mesin berkapasitas silinder kecil lebih irit ketimbang yang berkapasitas silinder besar. Untuk mesin 1.300 cc misalnya, volume satu tetes BBM mungkin cuma 0,1 ml. Sementara pada mesin 2.000 cc, 1 tetes BBM barangkali bisa mencapai volume 0,2 ml. Jadi, jika kedua mesin sama-sama bekerja pada 2.000 rpm., mesin 4 tak 1.300 silinder hanya mengkonsumsi 0,4 l dan mesin 4 tak 2.000 cc menghabiskan 0,8 l BBM.

Dari ketiga faktor tadi, jumlah silinder dan kapasitas mesin tidak bisa diubah. Satu-satunya variabel yang bisa dikendalikan adalah putaran mesin. Karena itu, upaya penghematan BBM saat mengemudi bisa dilakukan dengan cara mencapai putaran optimum.

Semua kendaraan memiliki putaran optimum, yakni putaran di mana efisiensi pembakaran BBM maksimal sehingga mesin mampu menghasilkan daya dan torsi maksimum. Tinggi rendahnya putaran optimum tadi beragam.  Umumnya ada dalam kisaran 4.000 - 6.000 rpm..

Memang, untuk operasi perkotaan, mesin hampir tak pernah terpaksa menyediakan tenaga maksimum. Medan lalu lintas perkotaan umumnya datar dan beraspal, cukup ramah bagi kendaraan bermotor. Logikanya, jika mesin memang tak perlu menyediakan tenaga maksimum, putaran mesin yang tinggi tak terlalu diperlukan. Pengendara bisa mengendalikan mesin pada putaran secukupnya walaupun tidak memperoleh tenaga maksimal. Toh, dengan tenaga
tidak maksimum pun medan lalu lintas perkotaan tetap dapat diatasi.  Konsumsi BBM bisa dibuat hemat.

Berdasarkan latar belakang teknis di atas, ada beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk menghemat BBM saat mengemudi. Upaya itu adalah:

1. Pastikan tak ada kebocoran pada tangki, pompa, dan pipa saluran BBM agar tak ada BBM yang terbuang percuma. Caranya, dengan memeriksa sambungan las, seal, dan kekencangan baut yang ada.

2. Sesuaikan tekanan ban dengan standar yang direkomendasikan pabrik.  Biasanya tabel tekanan ban tertera di bagian dalam pintu depan kanan mobil. Kita biasakan untuk menambah tekanan ban 1-2 psi di atas standar agar ban tidak segera mencapai tekanan di bawah standar. Langkah ini dapat menghemat BBM hingga 10%.

3. Terutama di dalam kota, jalankan ranmor dengan nyaman pada kecepatan 35 - 60 km/jam untuk meminimalkan efek Ra.

4. Sebisa mungkin operasikan mesin pada putaran relatif rendah (di bawah 2.500 r.p.m.). Juga kita sesuaikan posisi gigi transmisi dengan kecepatan. Jangan memaksa mesin bekerja pada putaran tinggi terlalu lama.

5. Hindari akselerasi-deselerasi mendadak. Sedapat mungkin percepat dan perlambat ranmor secara berangsur, tidak tiba-tiba.

6. Tinggalkan kebiasaan membawa beban terlalu berat yang sebenarnya tidak berguna. Beban terlalu berat membutuhkan kerja ekstra mesin yang berarti BBM ekstra pula.

Adapun Tips khusus untuk rekan-rekan yang mengendarai sepeda motor yaitu:

1.Pastikan efisiensi kerja mesin tetep terjaga, jadi BBM tetep irit dan umur sparepart lebih panjang

2.Jangan ngebut, karena konsumsi bensin akan langsung tersedot, jaga kecepatan konstan sesuai gigi yang dipakai.

3.Jangan sering stop & go, alias mengendurkan gas dan menggebernya kembali karena ketika tarikan awal mesin membutuhkan banyak bensin.

4.Hindari sering main gas dan memainkan rem (bentar-bentar injak rem)

5.Pakai gigi sesuai kecepatan agar bensin tidak terkuras sia sia.

6.Jika tikungan, gunakan gigi yang lebih rendah (engine brake), namun jika sudah melewati tikungan jangan menarik gas terlalu besar

7.Pilih BBM di pom bensin yang bersih, alias tidak oplosan

8.Jaga kondisi ban jangan sampai kempes agar perputaran roda nggak berat.
 
< Sebelumnya   Berikutnya >