|
”All Bikers, All Brothers” JIKA Anda melintas kawasan Dago depan Dunkin Donuts pada Kamis sore, Anda akan bertemu gerombolan cowok-cowok bermotor yang duduk-duduk santai di kawasan itu. Mereka bukan saja mejeng-mejeng, tetapi juga saling tukar informasi bagaimana memodifikasi motor yang mereka banggakan.
Ya, itulah para bikers yang tergabung dalam Tiger Association Bandung (TAB). Bukan hanya TAB, klub-klub motor serupa seperti MX Rider Community (MX RC) atau Smash Association Bandung (SAB) juga berkumpul pada hari yang sama. Mereka biasa berkumpul di kawasan Tugu Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat di Jalan Dipati Ukur dan kawasan Jalan Surapati depan Gedung Sate. "Kamis sore dan malam Minggu memang jadi arena silaturahmi antaranggota. Bukan saja saling tukar informasi dan kegiatan tetapi juga bagaimana menyiasati motor biar keren," ujar T.B. Irfansyah dari TAB yang diiyakan juga oleh Erwan dari MX RC dan Igor dari SAB. Ngeklub di jalanan memang sudah menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan saat ini. Di Kota Bandung saja, menurut Ketua Forum Club Motor Bandung (FCMB) Sony Teguh, S.Sos. terdaftar 73 klub. FCMB adalah asosiasi yang mewadahi klub-klub motor di Kota Bandung yang jumlahnya terus berkembang. Sedangkan jumlah klub motor yang tercatat di Ikatan Motor Indonesia (IMI) Jabar sampai 2007 mencapai 171 klub. Termasuk klub Harley-Davidson sebagai klub motor tertua sampai Pulsarian, klub motor keluaran brand ”Bajaj” yang akan segera dibentuk di Kota Bandung. Jumlah itu menurut Humas IMI Jabar, Usep Garnita terus bertambah. Bahkan, bila semua klub mendaftarkan diri secara resmi ke IMI Jabar, jumlahnya bisa lebih dari itu. "Mungkin di atas dua ratusan," ujarnya. Maklum, untuk satu pabrikan saja, bisa mengusung belasan bahkan puluhan klub. Seperti klub yang ada di lingkungan Honda, motor-motor asal pabrikan ini membentuk 13 klub. Sedangkan di Yamaha , Suzuki, lebih banyak lagi. Itu artinya, secara kuantitas memang sangat banyak. Malah kini klub-klub seperti itu, menurut Sony, tidak saja mengusung nama pabrikan asal mereka seperti TAB (Honda), MX RC (Yamaha), SAB (Suzuki) atau yang lainnya. Tetapi ada juga yang mengusung latar profesi atau perusahaan mereka. Seperti klub motor yang anggotanya karyawan bank, hotel, sampai BUMN seperti PT Telkom dan anggota TNI. Mereka semua membentuk klub dan bergabung di organisasi itu dengan menamakan dirinya sebagai bikers, seperti Motor Hotel Association, Military Tiger Flight (MTF) yang beranggotakan para TNI AU, Giant Motor Company yang beranggotakan karyawan pusat perbelanjaan, dll. "Jadi, kepentingannya bukan lagi atas nama pabrikan tetapi sebagai gaya hidup. Mereka ingin bergabung sebagai para bikers yang kompak, kreatif, dan peduli sesama anggota maupun sesama klub, juga masyarakat," ujarnya. Kompak, kreatif, dan peduli menjadi tiga hal penting bagi para bikers. Ketiga hal tersebut kata Sony, menjadi tujuan utama mereka dalam berorganisasi. Itulah sebabnya, para bikers yang ngeklub mempunyai kepengurusan dan program kerja yang direalisasikan dalam bentuk kegiatan-kegiatan. Beberapa di antaranya adalah program sharing pengetahuan tentang cara-cara aman berkendaraan (safety riding), prinsip-prinsip dasar mekanik, dan bagaimana membangun kekompakan dalam berorganisasi. Termasuk menjalin hubungan silaturahmi antarsesama klub sehingga moto yang digaungkan FCMC pun adalah "All Bikers, All Brothers". "Semua materi itu, pernah kita berikan pada event Safety Riding Course yang didukung banyak pihak termasuk pihak kepolisian," ujarnya lagi. Dari semua klub yang ditemui "PR", sebagian besar sudah mempunyai susunan keorganisasian, AD/ART, dan program. Program utama yang mereka kembangkan adalah sosialisasi safety riding, charity (sosial), dan touring-touring ke berbagai daerah di Indonesia. Untuk program safety riding, mereka sedang akan mengampanyekannya kepada masyarakat. Sedangkan untuk program sosial, hampir semua klub memberikan perhatian kepada korban-korban bencana alam, kalangan tidak mampu, anak jalanan, dll. Seperti yang pernah dilakukan para bikers yang tergabung di FCMB dan IMI yang mengadakan touring sekaligus tugas charity kepada korban bencana tsunami Pangandaran beberapa waktu lalu. Kawasan khusus Sebagai potensi yang cukup besar, para bikers meyakini, kehadiran mereka dapat memberi sumbangsih positif pada banyak pihak. Bukan saja dirinya, terutama dalam mengembangkan ide-ide kreatif dan inovatif dalam memodifikasi kendaraan mereka, tetapi juga kepada masyarakat dan Kota Bandung. Sebagai kota pariwisata, kehadiran para bikers ini menurut Dicky dari FCMB, dapat menjadi aset. Cuma sayang, karena belum difasilitasi, potensi mereka masih tercecer dan terkesan sekadar pamer kekuatan (show of force). Untuk itulah, Dicky mengatakan, Kota Bandung sudah saatnya mempunyai suatu kawasan khusus tempat pertemuan para bikers. Dia mengusulkan, Tugu Monumen Jawa Barat sebagai kawasan khusus para bikers. Agar simpul-simpul potensi para bikers yang tergabung di klub ini lebih mendapat tempat dan pengakuan. Jika sudah ada kawasan khusus, kata Dicky, mereka bukan saja mempunyai ruang kreatif yang lebih luas. Tetapi juga, secara ekonomis dapat membantu pertumbuhan kesejahteraan masyarakat sekitar. Sentra-sentra peralatan bikers maupun ide-ide mekanik yang mereka kembangkan akan menjadi tujuan wisata para bikers dari kota-kota lain. Usulan ini, tentu saja bukan tanpa alasan. Mari kita coba tengok bagaimana hobi ini dilihat dari sisi ekonomi. Seorang bikers dengan motor besar, kata Irfansyah, memerlukan jaket khusus berpengaman (body protector)/jaket kulit, helm (full face/half face), sepatu khusus (sancho), celana khusus, dan berbagai aksesori lain seperti kacamata, emblem, dll. yang harga totalnya bisa mencapai Rp 3-5 juta. Sedangkan untuk bikers kelas bebek bisa mencapai Rp 1-3 juta lebih. Itu artinya, kata Irfansyah, secara ekonomis, kehadiran kawasan khusus bikers seperti yang disampaikan Dicky dapat membawa berkah tersendiri bagi masyarakat Kota Bandung. Bila memang, pihak pemerintah mau memfasilitasinya. Yang lebih keren, salah satu bikers dari klub di Kota Bandung berhasil terpilih sebagai modifikator motor terbaik. Menurut Sony, bikers ini terpilih produk rokok tertentu untuk dibawa serta pada kegiatan festival desain modifikasi motor di Seattle Amerika Serikat. "Semua itu potensi bagi kita. Apalagi anggotanya sebagian besar anak-anak muda yang penuh kreatif dan daya imajinasi sangat tinggi. Tinggal bagaimana kekuatan dan kekompakan yang mereka miliki itu kita arahkan pada hal-hal yang lebih baik," ujar Sony. Hal senada disampaikan Ketua Pengda IMI Jabar , Oke D. Junjunan. Menurut dia, potensi kalangan bikers sudah semestinya mendapat support dari produsen pabrikan yang mengeluarkan mereka. Bukan saja agar mereka dapat tertib administrasi dalam mendaftarkan organisasinya kepada IMI Jabar, tetapi juga melakukan berbagai kegiatan positif bagi masyarakat. Sebuah kekayaan lain dari Kota Bandung yang keberadaannya belum termaksimalkan. Hayuu... atuh! (Eriyanti/"PR")*** |